Inginnya sekarang juga aku terbang menemuimu berjalan di sepanjang pantai cemara
yang selalu kita lalui sambil menikmati matahari menghilang di horizont
kita menikmatinya dengan penuh cinta...
Ah itu dulu ketika kita bersama-sama,sewaktu aku masih berada dikotamu
sayang kini aku terkapar berbaring di ranjang dengan penyakit yang merorong jantungku
senantiasa aku berharap bertemu denganmu atau kau mengujungi aku karena tak mampu aku menemuimu,
bukan hanya penyakit yang merorong jantungku juga rindu menyayat perih,
sayang adakah kau kenang dengan jingganya senja, setidaknya..
mungkin dengan adanya rindumu
tentang senja menjingga secuil rindu ada untukku
aku disini sayang berbaring lesu tak seorangpun mendengar jeritanku
suara tersekat hanya sampai dipersimpangan leher, penyakit itu sengguh menguras seluruh tenagaku.
Temui aku kekasih, hidupku takkan lama lagi, ingin aku sebelum pergi tuk selamanya
bersua sekejap saja mendengar suaramu walau aku tak mampu lagi membelai wajah
tampanmu menatap tulang rahang yang kekar dengn tatapan mata teduhmu
sayang bukankah pernah kau katakan walau badan kita berjauhan namun hati kita selalu bertaut
adakah rinduku saat ini kau rasakan...
bunyi mesin yang selama ini mendampingi tidurku memekakkan telinga.
sekarang aku melayang di udara
tubuhku berbaring diranjang putih kabel berada diantara lubang hidung
aku melihat dirimu tersedu di samping tubuh kakuku tanpa kata-kata,sepertinya ada penesalandalam isakmu.
jangan sesali sudah saatnya aku pergi hanya tubuhku menghilang darimu namun aku tetap bersamamu dalam ruang yang berbeda
senantiasa mendampingimu mengikuti harus kehidupan dalam duniamu
karena aku teramat mencintaimu ...
taukah kau kekasih,perih yang melilit dijantungku kini sirna sama sekali demikian juga rindu takkan kurasakan nyerinya karena aku selalu berada di sampingmu dalam setiap langkahmu...
Maafkan aku kekasih janganlah berduka...
(Fixsi asli Razlina Reichardt)
Trier 25.10.011
Montag, 24. Oktober 2011
Dienstag, 4. Oktober 2011
Tarian rindu
Sapamu dalam hati
yang menari dalam sukma
tarian rindu melikuk-liuk dengan gemulai
dan hentakan kaki mengajak pulang.
Trier 04.10.011
yang menari dalam sukma
tarian rindu melikuk-liuk dengan gemulai
dan hentakan kaki mengajak pulang.
Trier 04.10.011
Freitag, 10. Juni 2011
Goresan Dinding
Hujan
Hujan berderai dan halilintar membelah sunyi
bayang rindu jua lambai melambai....
06.06.011
Kartini
Teramat rindu walau hanya seminggu
tak sabar menunggu kepulanganmu
duhai belahan jiwa..♥♥♥♥
09.06.011
Malam
Sesabit rembulan di malam senin
wajahmu sendu di belai awan kelabu
rintik menitik gerimis malam
05 Juni 011
Cermin
Berkaca di cermin retak terlihat-
wajah diri berkeping-keping berderai tak berbentuk...
03 Juni 011
Sembilu
Menikmati sembilu rindu
yang teramat dalam di kedalaman sukma...
30 Mei011
Ingin
Mentari teramat cepat menyapa pagi
sementara aku masih ingin menikmati malam
karena dia mewarnai mimpi...
29.Mei.011
Hujan berderai dan halilintar membelah sunyi
bayang rindu jua lambai melambai....
06.06.011
Kartini
Teramat rindu walau hanya seminggu
tak sabar menunggu kepulanganmu
duhai belahan jiwa..♥♥♥♥
09.06.011
Malam
Sesabit rembulan di malam senin
wajahmu sendu di belai awan kelabu
rintik menitik gerimis malam
05 Juni 011
Cermin
Berkaca di cermin retak terlihat-
wajah diri berkeping-keping berderai tak berbentuk...
03 Juni 011
Sembilu
Menikmati sembilu rindu
yang teramat dalam di kedalaman sukma...
30 Mei011
Ingin
Mentari teramat cepat menyapa pagi
sementara aku masih ingin menikmati malam
karena dia mewarnai mimpi...
29.Mei.011
Sonntag, 22. Mai 2011
Rindu yang mengusik jiwa
Kepak sayapmu camar kelaut lepas
kutitip rindu yang mengusik kalbu
agar resah tak bersemayam di jiwa..
22.05.011
Trier
kutitip rindu yang mengusik kalbu
agar resah tak bersemayam di jiwa..
22.05.011
Trier
Freitag, 20. Mai 2011
Menapak rindu
Kerinduan yang kian berwarna warni hanya untukmu
di kebun hati menari beribu kupu-kupu melukiskan rautmu,
jejak yang kau tinggalkan takkan terhapus oleh empasan gelombang
menapak melekat di jantung hati...
17.05.11
Mittwoch, 11. Mai 2011
mawar mewarna
Sayang...
Rindu kian merajut jantungku
terkadang indah mawar mewarna
namun tusukannya perih di nadi
merah mendarah tak ternilai..
Rindu kian merajut jantungku
terkadang indah mawar mewarna
namun tusukannya perih di nadi
merah mendarah tak ternilai..
Biarkan aku disini
Aku telah memutuskan bahwa aku takan kembali
walau rindu nyeri menusuk-nusuk jantungku,
rindu padamu,rindu pada tanah bunda
selalu selalu saja mengusik jiwa.
aku takkan kembali karena kecewa
telah melimpah-limpah di jiwaku
ingin rasanya memuntahkan semua rasa
dari isi perutku,
dari detak jantungku
dari seluruh darah yang mengalir di nadiku
namun aku tak mampu:
aku terpaku, terpana
dan terbelenggu dalam kekecewaaan...
Bukankah aku menyanyangimu
kupahami segala deritamu, mengalir Doa beribu Doa
namun kenaifanku kau pergunakan dengan kebohongan
kau hilang akan dirimu
dan remuklah kalbuku
Aku takkan kembali
walau rindu menyat-nyayat jantungku
rindu pada rimbunnya pepohonan di kebun pala
rindu pada beningnya sungai yang mengalir
membasahi sawah membentang
rindu pada kicau murai di pagi hari..
hatiku remuk redam
kemunafikanmu teramat dalam
dan biarkan aku disini
menikmati negeriku dalam
angan dan bayang -bayang
Biarlah aku disini
di negeri empat musim
bila musim dingin tiba :
kuseberangkan jiwaku ke Negeri Matahari
lalu musim semi menyapa kicau burung bersenandung
bagaikan murai ceria di pephonan belimbing depan rumah
Musim panas adalah mentari dari negeri Matahari
musim gugur yang daun daunnya berwarna warni
adalah cintaku padamu tanah bunda
Biarlah aku disini
telah kutentukan waktuku
dan menikmati duka mungkin juga berbuah suka...
Trier 11.05.011

walau rindu nyeri menusuk-nusuk jantungku,
rindu padamu,rindu pada tanah bunda
selalu selalu saja mengusik jiwa.
aku takkan kembali karena kecewa
telah melimpah-limpah di jiwaku
ingin rasanya memuntahkan semua rasa
dari isi perutku,
dari detak jantungku
dari seluruh darah yang mengalir di nadiku
namun aku tak mampu:
aku terpaku, terpana
dan terbelenggu dalam kekecewaaan...
Bukankah aku menyanyangimu
kupahami segala deritamu, mengalir Doa beribu Doa
namun kenaifanku kau pergunakan dengan kebohongan
kau hilang akan dirimu
dan remuklah kalbuku
Aku takkan kembali
walau rindu menyat-nyayat jantungku
rindu pada rimbunnya pepohonan di kebun pala
rindu pada beningnya sungai yang mengalir
membasahi sawah membentang
rindu pada kicau murai di pagi hari..
hatiku remuk redam
kemunafikanmu teramat dalam
dan biarkan aku disini
menikmati negeriku dalam
angan dan bayang -bayang
Biarlah aku disini
di negeri empat musim
bila musim dingin tiba :
kuseberangkan jiwaku ke Negeri Matahari
lalu musim semi menyapa kicau burung bersenandung
bagaikan murai ceria di pephonan belimbing depan rumah
Musim panas adalah mentari dari negeri Matahari
musim gugur yang daun daunnya berwarna warni
adalah cintaku padamu tanah bunda
Biarlah aku disini
telah kutentukan waktuku
dan menikmati duka mungkin juga berbuah suka...
Trier 11.05.011
Sesabit rembulan mewarnai malam....(fotoTom De Wilde)
Abonnieren
Posts (Atom)